Kamis, 20 Oktober 2011

BABI GROWER

Babi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Class : Mammalia 
Ordo : Artiodactyla 
Sub ordo : Sus
Spesis : Sus Scrofa Sus Vittatus
Sus Vittatus merupakan babi liar yang berasal dari Asia Timur dan Tenggara dan juga sus scrofa adalah babi Eropa liar sekarang yang dahulu juga berada di Asia Barat Sus Vittatus adalah jenis bangsa babi liar yang paling awal atau paling lama dijinakkan. hal ini bisa dibuktikan bahwa semenjak tahun 4900 SM Cina telah memiliki dua bangsa babi piaraan yaitu Chinese dan Siamese. Sedang penjinakan Sus Scrofa baru dikenal setelahnya. Di Inggris, pemeliharaan babi ini baru dikenal pada tahun 800 SM. Babi asli Indonesia berasal dari babi hutan yang sampai sekarang masih terdapat di hutan dan hidup liar dan babi ini terkenal dengan nama babi celeng (sus verrucosus). Untuk meningkatkan kualitas babi di Indonesia pernah dilakukan impor babi dari luar negeri seperti Hampshire, Yorkshire, Tamworth, VNL dan VDL.
Dewasa ini bangsa – bangsa babi telah dikelompokkan menjadi beberapa tipe. Tipe yang umum dikenal ada 3 yaitu babi tipe lemak (lard type), tipe daging (meat type atau pork type) dan tipe sedang (bacon type). Bangsa babi yang ada di Indonesia umumnya cenderung kearah tipe lemak. Ciri – ciri babi tipe lemak adalah ukuran tubuh berlebihan cepat atau mudah menjadi gemuk, ukuran babi pendek dan kemampuan dalam membentuk lemak cukup tinggi. Babi yang tergolong tipe daging antara lain Hampshire, Polland China, Duroc, dan yang tergolong tipe sedang adalah Yorkshire, Tamworth dan Landrace.
Berdasarkan permintaan konsumen, sampai saat ini babi tipe lemak menjadi tidak populer lagi. Masyarakat mulai mengalihkan perhatian kepada babi tipe daging, oleh sebab itu peternak mengalihkan perhatian kepada babi tipe daging (meat type). Untuk bangsa babi di Indonesia, belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu tipe yang dikehendaki oleh konsumen. Jadi tipe babi Indonesia memiliki sifat yang masih campuran, tetapi ada tendensi mengarah kepada babi tipe lemak. Babi adalah ternak monogastrik yang mampu mengubah bahan makanan secara efisien. Limbah pertanian, peternakan dan sisa makanan manusia yang tidak termakan dapat digunakan oleh babi untuk menjadi produksi daging. Besarnya konversi babi terhadap ransum ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan makanan sebanyak 3,5 kg ransum .
Babi memiliki sifat prolifik, yakni banyak anak dalam satu kali kelahiran. Jumlah anak yang dilahirkan berkisar antara 8 – 14 ekor dalam satu kelahiran dengan rata – rata 2 kali kelahiran per tahun. Babi dara dapat dikawinkan pada umur 8 bulan, beranak pada umur 1 tahun dan anak – anaknya dapat mencapai berat ± 100 kg pada umur 5 – 6 bulan bila dipelihara pada keadaan sehat.
Babi Periode Grower
Dari ketiga fase pertumbuhan yaitu starter, grower dan finisher, fase grower adalah saat – saat pertumbuhan babi yang paling cepat dan merupakan fase yang paling efisien dalam mengkonversikan makanan untuk mencapai berat hidup. Jadi babi yang mendekati kedewasaannya, maka perbandingan konversi makanan akan menjadi lebih luas. Hal ini berarti keperluan makanan yang dipergunakan untuk meningkatkan berat badan akan lebih banyak pula. Babi periode grower yaitu babi yang memiliki bobot rata – rata 35 kg hingga mencapai bobot badan 60 kg atau dri umur 16 minggu sampai mencapai umur 24 minggu. Periode grower merupakan periode yang harus diperhatikan akan kebutuhan zat makanannya, dan ransum yang bermutu tinggi adalah salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi performans babi grower. Ransum yang terdiri dari pakan yang bermutu tinggi dan disusun memenuhi kebutuhan zat- zat makanan babi dan dicampur baik adalah syarat untuk memperoleh performans yang optimal.
Menurut NRC (1998) kebutuhan zat makanan ransum babi periode grower yaitu energi metabolisme sebanyak 3265 kkal, protein kasar sebanyak 15% dan kandungan serat kasar ransum sebesar 5%. Pertambahan bobot badan yang diharapkan 0,497 – 0,606 kg/hari dan konsumsi ransum sebanyak 1,90 – 2,53 kg/hari. Konsumsi harian babi periode grower dengan bobot badan 30 – 70 kg sebesar 2160 gr/hari. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kebutuhan zat makanan babi periode grower dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel . Kebutuhan zat – zat makanan babi periode grower
Zat Makanan Kebutuhan
—–%—–
Protein Kasar 15,00
Serat Kasar 5,00
Lisin 0,60
Ca 0,50
P 0,45
Energi Metabolisme 3265,00
Konsumsi Ransum Babi Grower
Ransum adalah makanan yang diberikan pada ternak selama 24 jam yang terdiri dari dua atau lebih bahan makanan. Tujuan pemberian ransum adalah menjamin pertambahan bobot badan yang ekonomis selama pertumbuhan dan penggemukan berlangsung. Ransum yang sempurna akan memberi jaminan terhadap pertumbuhan yang baik, yaitu kombinasi beberapa bahan makanan yang bila dikonsumsi secara normal dapat memenuhi kebutuhan zat makanan kepada ternak sehingga fungsi biologis dalam tubuh berjalan secara normal. Babi akan dapat mencapai tingkat penampilan produksi tertinggi sesuai dengan potensi genetiknya bila memperoleh zat- zat makanan yang dibutuhkan.
Faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum terbagi dua yaitu yang secara langsung berpengaruh pada besar dan berat badan, umur, kondisi ternak serta cekaman yang diakibatkan oleh lingkungan seperti temperatur, kelembaban udara dan sinar matahari, semakin tinggi temperatur maka konsumsi ransum akan semakin rendah dan meningkatnya temperatur lingkungan akan menurunkan konsumsi ransum yang diikuti dengan meningkatnya respirasi. Temperatur lingkungan yang optimal untuk ternak babi dengan bobot badan 20 – 50 kg adalah 18 – 22 ° C.
Palatabilitas merupakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi ransum dan tergantung pada bau, rasa, tekstur dan suhu, faktor umum yang mempengaruhi konsumsi adalah palatabilitas ternak terhadap ransum yang diberikan, namun semuanya itu tergantung daripada kandungan zat bahan makanan yang terkandung dalam ransum, salah satunya dengan penambahan zat aditif yang diharapkan ternak mencapai produktivitas yang tinggi. Feed Additive dapat digunakan untuk memperbaiki aroma ransum dan meningkatkan konsumsi ransum, selain itu mampu mengoptimalkan daya serap makanan oleh usus halus akibat rangsangan feed additive terhadap organ pencernaan tertentu pada ternak. Bentuk feed additive yang dipergunakan dapat berasal dari bahan kimia sintetis ataupun ekstraksi tanaman seperti curcuminoid dimana tujuannya adalah untuk memperoleh konsumsi ransum yang optimal.
Pertumbuhan Babi
Cara umum untuk menyatakan pertumbuhan adalah dengan mengukur kenaikan bobot badan yang mudah dilakukan dan biasanya dinyatakan sebagai pertambahan bobot badan harian atau Average Daily Gain (ADG), sedangkan pertumbuhan yang diperoleh dengan menghubungkan bobot badan dengan umur akan menghasilkan kurva pertumbuhan (Lang, 1981). Tahap – tahap pertumbuhan membentuk kurva sigmoid. Pada grafik pertumbuhan yang ditentukan oleh tingkat konsumsi tinggi, pertumbuhan juga cepat, sedangkan bila terjadi penurunan konsumsi dapat memperlambat kecepatan pertumbuhan. Besarnya kenaikan bobot badan ternak dipengaruhi oleh jumlah ransum yang dikonsumsi, selain itu dengan penambahan makanan tambahan tertentu dalam ransum juga mampu lebih meningkatkan kualitas ransum sehingga tujuan peningkatan produksi dengan pertumbuhan yang optimal dapat dicapai.
Pertumbuhan memiliki banyak pengertian, seperti yang telah dikemukakan oleh beberapa peneliti antara lain pertumbuhan meliputi perbanyakan jumlah sel (hiperplasi) serta peningkatan ukuran sel (hipertropi). pertumbuhan merupakan manifestasi perubahan fisik yang menunjukkan bahwa organisme yang sedang tumbuh mengalami perubahan – perubahan baik konformasi, berat atau ukuran tubuh secara teratur. Pertumbuhan adalah suatu kenaikan ukuran daging, tulang, organ – organ dalam dan bagian tubuh lain serta merupakan dasar dari produksi ternak. Pertumbuhan adalah proses yang sangat kompleks bukan saja pertambahan bobot badan tetapi juga menyangkut pertumbuhan semua organ tubuh secara serentak.
Pertumbuhan dan kecepatan pertumbuhan dipengaruhi oleh banyak faktor. faktor makanan yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kandungan zat makanan serta daya cerna bahan makanan tersebut. faktor genetik, hormon dan kastrasi. Pada babi, kastrasi merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mempercepat laju pertumbuhan, selain kandungan zat makanan seperti protein yang menempati urutan paling penting diantara zat – zat makanan yang dibutuhkan lainnya untuk hidup pokok dan produksi. Kecepatan pertumbuhan suatu tenak dipengaruhi oleh bebeapa faktor yaitu bangsa, jenis kelamin, umur, makanan serta kondisi lingkungannya.
Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan adalah kemampuan ternak mengubah ransum ke dalam bentuk tambahan bobot badan. efisiensi ransum tergantung kepada aktivitas fisiologi ternak, efisiensi penggunaan ransum akan menurun apabila suhu meningkat di atas suhu kritis. Efisiensi pakan adalah jumlah produksi satuan makanan yang dikonsumsi, hal ini menunjukkan bahwa efisiensi pakan dapat dijadikan kriteria untuk menunjukkan kualitas ransum.
Efisiensi pakan berkaitan erat dengan rataan pertambahan bobot badan harian dan konsumsi. Efisiensi penggunaan ransum merupakan perbandingan dari rataan pertambahan bobot badan dengan konsumsi bahan kering harian, efisiensi penggunaan pakan pada ransum yang mengandung protein tinggi, nyata lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengandung protein rendah. Hal ini sangat mendukung terhadap pertumbuhan yang mengutamakan protein sebagai kandungan bahan pakan dimana pada akhirnya memberikan dampak yang lebih baik pada ternak untuk meningkatkan pertambahan bobot badan yang diharapkan. Kandungan zat makanan yang buruk akan menyebabkan efisiensi pakan yang buruk.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews