Kamis, 20 Oktober 2011

kolibasilosis pada unggas

Kolibasilosis
Kolibasilosis umumnya dianggap sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan unggas. Bakteri Escherichia coli (E. coli) biasanya terdapat dalam jaringan atau saluran pernapasan ayam yang sakit. Infeksi oleh E. coli dianggap sebagai infeksi sekunder terhadap penyakit menular atau tidak menular sehingga sebagai  bagian yang memperumit suatu penyakit. E. coli bisa juga sebagai infeksi primer. Kejadian kolibasilosis belakangan ini pemunculannya sangat menonjol pada ayam pedaging, terutama yang berumur muda, antara 1 – 2 minggu. Angka kematian bisa mencapai 10% dan akan lebih besar lagi apabila disertai infeksi lain yang mengikutinya, seperti : ND, M. gallisepticum atau IB. Sebenarnya Kolibasilosis menyerang ayam semua umur, kebanyakan dilaporkan terjadi pada ayam yang dipelihara dalam keadaan sanitasi yang sangat rendah. Bakteri E. coli akan melimpah pada air yang kualitasnya jelek, terutama setelah turunnya hujan. Angka kematian bisa mencapai 10% dan akan lebih besar lagi apabila disertai infeksi lain yang mengikutinya, seperti: ND, M. gallisepticum atau IB.
E. coli bersifat pathogen dan infeksinya dapat berbentuk kematian embrio pada telur tetas, infeksi yolksac, omfalitis, koliseptikemia, airsacculitis (radang kantong udara), enteritis, infeksi alat reproduksi (salpingitis). Berbagai bentuk kolibasilosis memiliki dampak ekonomik yang penting pada industri perunggasan, karena mengakibatkan  gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan kualitas karkas dan telur, penurunan daya tetas telur dan kualitas anak ayam hasil tetas serta mendukung timbulnya penyakit yang kompleks pada saluran pernapasan, pencernaan ataupun reproduksi yang cukup sulit diberantas.
Etiologi   
            Dikenal beberapa serotipe E. coli yang telah diidentifikasi sering menyerang, antara lain adalah  [01 : K1(L)]. [02 : K2(L)] dan [078 : K80(B)]. Sebenarnya E. coli memiliki lebih dari seribu serotipe. E.coli adalah bakteri tahan asam, berbentuk batang halus, berukuran 2 – 3x 0,6 mikrometer, tidak membentuk spora dan ada beberapa galur bersifat motil. Bakteri ini bersifat anaerobik fakultatif yang ditemukan normal dan dominan di dalam usus ayam dan hanya 10 – 15% yang bersifat ganas. Kolibasilosis terjadi pada ayam yang dipelihara dalam keadaan sanitasi yang jelek. Bakteri E. coli ditemukan dengan  jumlah yang melimpah pada air dengan kualitas yang rendah.
Bakteri E. coli disebut juga koliform fekal, hal ini karena E.coli ditemukan di dalam saluran usus ternak dan manusia dan didapatkan di dalam feses, sehingga       E. coli dikenal sebagai indikator kontaminasi kotoran.  

Gejala-gejala
            Gejala klinis kolibasilosis antara lain : kematian mendadak yang terjadi pada bentuk akut, tanpa menunjukkan gejala klinis. Apabila penyakit berjalan kronis, maka gejala yang terlihat yaitu kelesuan, napsu makan menurun serta munculnya gangguan pernafasan berupa ngorok pada malam hari disertai pengeluaran eksudat dari hidung. Beberapa kasus kolibasilosis terjadi pada organ reproduksi unggas sehingga agak sukar diamati. Eksudat pada kantong hawa dan radang fibrinosa pada kantong jantung dan permukaan hati. Gejala lain berupa radang pusar (omphalitis), septicaemia dan enteritis.

Cara Penularan  
Walaupun ayam dari dari berbagai kelompok umur dapat terinfeksi oleh E. coli, namun ayam muda lebih sensitif dibandingkan ayam dewasa. Penyakit banyak ditemukan pada lingkungan yang kotor dan berdebu dan pada sekelompok ayam yang mengalami immunosupressif akibat penyakit infeksius. Distribusi E. coli sangat luas, bisa ditemukan di dalam litter, kotoran ayam, debu/kotoran lain dalam kandang serta lingkungan sekitar kandang, pakan, air minum dan sumber air , seperti sumur. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105 – 106 sel E. coli/gram. Bakteri akan tahan lama di dalam kandang, terutama keadaan kering. Penurunan jumlah sel akan terjadi 7 hari setelah kandang disemprot air. Bakteri E. coli juga ditemukan di feses ternak/burung liar, rodensia, manusia dan insekta.
            Infeksi E. coli pada unggas umumnya dipicu oleh infeksi primer saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus atau Mycoplasma. Kondisi tersebut akan menjadi parah karena faktor-faktor lingkungan seperti tingginya amoniak di dalam kandang. Kolibasilosis menyebar karena unggas menghirup debu kandang  yang telah tercemar bakteri. Unggas dapat bersifat sebagai pembawa bakteri karena di dalam tinjanya selalu mengandung E. coli.
            Bakteri akan masuk ke dalam saluran pernapasan bagian bawah dan akan melekat di permukaan epitel. Perlekatan yang spesifik dari bakteri ini disebabkan karena adanya vili yang dimilikinya. Setelah melekat bakteri akan masuk ke perredaran darah dan akhirnya menimbulkan kerusakan pada kantong udara, perikardium jantung dan kapsula hati. Bakteri E. coli yang ganas dapat diisolasi terutama dari kantong udara dan perikardium jantung.
Penularan E. coli yang terjadi melalui telur tetas akan menyebabkan kematian dini yang tinggi pada anak ayam. Anak ayam yang dihasilkan dari telur yang terkontaminasi akan mengandung sejumlah besar E. coli  di dalam usus atau feses, sehingga akan berakibat terjadinya penularan yang cepat pada suatu populasi tertentu. Sumber penularan terpenting pada telur adalah feses yang mengandung E. coli yang mengkontaminasi dan menembus kerabang telur serta selaput telur. Pencemaran telur oleh E.coli bisa terjadi di ovarium maupun oviduk yang terinfeksi oleh bakteri tersebut.

Perubahan Pasca Mati
            Pada saat dibedah bangkai, maka ayam penderita kolibasilosis menunjukkan perubahan-perubahan, antara lain :   terlihat kantong hawa menebal dan terdapat eksudat kental serta terjadi semacam perkejuan. Eksudat semacam ini juga ditemukan di selaput jantung, hati dan paru-paru. Dehidrasi, pembengkakan dan kongesti pada hati, lien dan ginjal serta perdarahan bintik-bintik pada organ visceral.Usus mengalami enteritis, berisi lendir berlebihan dan area-area hemorrhagi, omphalitis juga sering terlihat, terutama pada burung muda. Perubahan pasca mati yang lain yang dapat ditemukan antara lain : peritonitis, salphingitis, synovitis, airsacculitis. 
Pencegahan
            Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah mengusahakan memperoleh telur tetas dari ayam yang bebas kolibasilosis. Menghindarkan kerabang telur  dari kontaminasi oleh feses. Sebelum disimpan telur difumigasi. Pada setiap penetasan telur usahakan cara sanitasi dan fumigasi yang baik dan ketat. Pada pemeliharaan ayam harus mentaati sanitasi. Mengusahakan pakan dan air minum supaya tidak tercemar oleh feses, jika perlu tambahkan antibiotik dalam pakan.

Pengobatan
            Beberapa antibiotik yang termasuk kelompok aminoglikosida yang biasa digunakan untuk mengatasi kolibasilosis  adalah neomisin dan gentamisin, kelompok aminosiklitol, yaitu spektinomisin dan kelompok polipeptida, misalnya kolistin/polimiksin B. Kelompok tetrasiklin, antara lain preparat tetrasiklin, termasuk oksitetrasiklin, klortetrasiklin dan doksisiklin. Kombinasi sulfonamide dan trimetoprim juga bisa diupayakan dengan berbagai perbandingan. Kelompok kuinolon yang meliputi generasi asam nalidiksik/asam oksolinat, flumekuin, enrofloksasin, ofloksasin dan norfloksasin.
Hasil penelitian Rahayu (2006) menunjukkan sensitivitas E. coli terhadap antibiotik golongan Tetrasiklin, yaitu Tetrasiklin dan Oksitetrasiklin sangat rendah. E. coli baru menunjukkan sensitivitas pada level 50 miligram Tetrasiklin dan 40 miligram Oksitetrasiklin. 

Pasteurelosis/Fowl Cholera (Kholera Unggas)
            Kholera unggas adalah penyakit akut atau kronis yang menyerang unggas, seperti : ayam, itik, angsa, kalkun, merpati dan burung liar yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida (P. multocida). Penyakit ini sebagian besar disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan. Wabah akut yang berhubungan dengan stres menejemen atau lingkungan dapat menyebabkan penurunan produksi telur pada ayam petelur. Pada ayam pembibit menyebabkan aktivitas kawin berkurang sehingga menurunkan fertilitas dan pada gilirannya akan menurunkan jumlah anak ayam per indukan.

 

Etiologi

                Pasteurella multocida memiliki 3 serotipe, yaitu 5A, 8A dan 9A yang berbeda patogenitasnya. Serotipe 6B dan 6E menyerang sapi. Pasteurella merupakan bakteri gram negatif, bipoler, anaerobik, menghasilkan toksin memiliki selubung, tetapi tidak memiliki spora. P. multocida tergolong tidak tahan hidup di luar tubuh hospes.  

 

Gejala Klinis

                Penyakit ini ditandai oleh kematian yang tiba-tiba, kelemahan, dyspnoe, diare profus dan kadang-kadang kebiru-biruan (cyanosis) pada bagian kepala, anemia dan pneumonia katharralis. Pada kasus perakut gejala awal tidak teramati. Kasus perakut serutama terjadi pada unggas air. Pada infeksi kronis terlihat pembengkakan dan pernanahan pial, yang sering disebut wattle disease,  kelumpuhan akibat artritis dan adanya torticollis yang disebabkan oleh otitis interna (radang pada telinga bagian dalam). Gambar 2, menampilkan gejala klinis berupa pembengkakan pial pada penderita fowl cholera.

Masa Inkubasi
            Masa inkubasi penyakit bervariasi dari beberapa jam sampai beberapa hari. Pada infeksi pertama kali angka morbiditas bisa mencapai 60 – 70%, sedangkan angka mortalitas mencapai 40 – 50%.

 

Cara Penularan   

            Infeksi terjadi setelah kontak langsung antara ayam yang peka dengan ayam yang secara klinis terkena penyakit atau dengan ternak karrier yang telah sembuh. Infeksi terjadi melalui oral dan aerogenous lewat droplet. Penyebaran penyakit terutama disebabkan oleh kondisi lingkungan yang jelek. Sumber infeksi bisa berupa lingkungan yang tercemar, binatang pengerat dan burung liar. Karung pakan, peralatan, pakaian, anak kandang yang terkontaminasi juga bisa berperan sebagai perantara infeksi. Faktor-faktor predisposisi yang memudahkan kejadian penyakit, antara lain : perubahan pakan secara drastis, malnutrisi, transportasi, pengaruh iklim, moulting maupun pengaruh infestasi parasit cacing.

Perubahan Pasca Mati
            Pada kasus akut terlihat pembengkakan limpa dan hati dengan perdarahan berbintik pada organ dalam, termasuk jantung. Pada kasus subakut terlihat fokus-fokus granulomatosa berwarna kelabu pada hati. Pada kasus kronis terjadi artritis seropurulen.

Pencegahan
            Upaya pencegahan yang bisa dilakukan antara lain adalah prosedur biosekuritas yang ketat untuk mencegah masuknya infeksi, pemberantasan binatang pengerat dan imunisasi kawanan ayam di daerah endemik sangat direkomendasikan. Vaksinasi rutin harus dilakukan pada peternakan yang sebelumnya pernah terjangkit penyakit. Pemberian vaksin hidup P. multocida yang telah dilemahkan diberikan dua kali selama pemeliharaan dengan penusukan pada sayap (wing-web stab) pada umur 10 dan 14 minggu. Vaksin inaktif dapat pula digunakan jika timbul reaksi yang tidak diinginkan terhadap vaksin hidup. Untuk pengendalian secara efektif terhadap Pasteurelosis, maka bakterin yang telah diinaktivasi haruslah homolog dengan galur P. multocida.
Pengobatan
            Pemberian tetrasiklin ke dalam pakan dengan dosis 200 – 400 g/ton akan menekan gejala klinis dan mengurangi kematian akibat Pasteurelosis.

Aspergilosis
            Penyakit Aspergilosis merupakan penyakit saluran pernapasan dan kantong hawa unggas segala umur yang  telah tersebar di seluruh dunia, terutama negara-negara tropis yang bercuaca panas dan lembab. Penyakit ini menyerang secara sistemik, yang berarti menyerang di dalam tubuh ternak dan dapat menyebar ke seluruh bagian tubuh. Unggas yang rentan antara lain : ayam, kalkun, itik, angsa dan berbagai jenis unggas, burung liar serta burung-burung dalam sangkar, seperti : kenari, parkit, kakak tua, nuri dan camar. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Aspergillus niger dan Aspergillus fumigatus. Wabah yang hebat terjadi pada penetasan yang bisa menimbulkan kematian dengan angka mortalitas hingga 15% pada anak ayam 2 minggu  awal pemeliharaan. Pada ayam yang masih hidup penyakit menyebabkan pertumbuhan terganggu dan terjadi asites komplek.

Etiologi
            Aspergillus fumigatus suka tumbuh pada bahan-bahan organik yang sedang membusuk dalam kandang ayam atau mesin penetas. Bisa tumbuh pula pada litter dan pakan ayam, pada komponen tanaman gramineae (padi-padian), seperti pada batang/daun padi, tebu, jagung dan alng-alang. Aspergillus yang lain, antara lain : A. flavus, A. niger, A. nodulans dan A. terreus.
            Kondisi aerobik, kelembaban dan suhu yang optimal di daerah tropis menyebabkan jamur akan tumbuh baik. Angin pada saat musim pancaroba bisa membawa spora jamur ke areal peternakan. Aspergilosis akan banyak terjadi di area peternakan yang dekat dengan  perkebunan tebu, ladang alang-alang, atau bahkan persawahan padi.
            Sarang A. fumigatus yang sedang bersporulasi tampak berwarna biru kehijau-hijauan yang sering mengkontaminasi pakan ternak, litter, tempat pakan dan minum. Koloni A. flavus tampak hijau kekuningan, koloni A. niger berwarna hitam, A. nodulans berwarna hijau dan A. terreus berwarna kecoklatan.
            Faktor-faktor predisposisi yang memudahkan serangan Aspergillus, antara lain : populasi yang terlalu padat, ventilasi jelek, cuaca buruk, stres akibat pengangkutan atau pindah ternak.   

Gejala Klinis
            Unggas yang terserang menunjukkan tanda-tanda sulit bernapas, gasping. kecepatan pernapasan meningkat. Gejala lain yang sering muncul, antara lain : mencret, napsu makan menurun, pucat, kurus dan pertumbuhan lambat. Mata membenkak sebelah atau keduanya, jika infeksi terjadi di mata. Jamur juga bisa menyerang otak sehingga terlihat gejala-gejala syaraf, seperti kekakuan, tremor (gemetaran), kepala diletakkan pada punggung dan lumpuh.

Cara Penularan        
            Penularan penyakit terjadi akibat menghirup sejumlah spora Aspergillus yang berasal dari pakan atau litter.             Kejadian Aspergilosis di mesin penetasan merupakan indikasi tingkat sanitasi dan menejemen suatu perusahaan pembibitan. Aspergillus bisa menembus kulit telur, terutama telur yang kotor apalagi retak,  sehingga  terjadi kematian embrio saat umur16 hari inkubasi atau jika berhasil menetas, maka akan menghasilkan DOC yang lemah dengan paru-paru dan kantung udara terinfeksi Aspergillus. DOC yang demikian menderita brooderpneumonia. Tingkat kematian DOC rata-rata sebesar 5 – 10%, tingkat kematian tertinggi adalah 30%.

Perubahan Pasca Mati
            Ditemukan benjolan-benjolan atau sarang perkejuan berwarna kuning sampai abu-abu dalam Trakhea, paru-paru, kantong hawa dan tenggorokan. Sering juga ditemukan dalam perut, hati dan bagian tubuh yang lain.
Pencegahan
            Disiplin dalam tatalaksana pemeliharaan, sanitasi mesin tetas dan mementingkan higyene merupakan upaya pencegahan yang harus diperhatikan.

Pengobatan
            Tindakan pengobatan yang bisa dilakukan adalah pemberian Fungisidin, dapat diberikan secara aerosol, melalui penyemprotan dengan sprayer atau pemberian Thiabendazole 0,2% per oral melalui pakan.



0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews